Perkenalkan, teman saya "Si Pahit Lidah". Kadang ia membanggakan tapi tidak jarang juga ia memuakkan. Kadang saya memujinya tapi sangat sering juga risih mendengarkannya.
Si Pahit lidah selalu berkata yang tidak baik seperti : olokan, sinis dan sindiran tapi di suatu waktu ia berkata baik dan tiada fitnah. Saya pribadi sangat risih dengan tipe orang seperti ini, tipe yang tidak tahu apa-apa tapi banyak berbicara; tipe orang yang punya info sebatas nilai "katanya" tetapi berlagak layaknya "A1" yg sangat rahasia. Tak pelak ia sering mengolok-olok suatu profesi tanpa sadar bahwa selama ini dia hidup, makan dan sekolah dari buah profesi tersebut, Ya karena profesi tersebut merupakan profesi orang tuanya.
Si pahit lidah juga tidak memiliki cermin. Baginya, "cermin" merupakan benda yang harus cepat-cepat ia buang setelah ia mendadak kaya dan berkecukupan -ingin beli hp baru "cukup", beli rumah "cukup", ingin menikah "cukup"- , seakan hidupnya baru dimulai tadi pagi. Selebihnya, ia cukup lupa bahwa dulu ia pernah mencoba melamar untuk mendapatkan profesi yang diolok-oloknya saat ini.
Dunia memang cantik, ia dapat menampilkan dua sisi yang berbeda warna, berbeda corak namun mampu menyuguhkan keindahan. Si pahit lidah memang menjengkelkan, namun terlepas dari itu semua ia merupakan teman saya, yang pernah mengarungi sebagian kisah hidup nan indah bersama.